Tanya Jawab 74

Februari 12, 2008 at 9:54 am 3 komentar

Dari : Agung

Pertanyaan :                                                                                                                                         Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi seorang bapak yang sudah berusia 60
tahun keatas, dan berada didalam keadaan koma di ICU. Dokter dan para ahli
neurologist mengatakan bahwa pembuluh darah di otaknya pecah, disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu kurangnya melatih peredaran darah dengan cara berolah
raga tipe aerobic (seperti running, swimming, badminton, ataupun memutarbalikan kepala kearah lantai, agar pembuluh darah disekitar syaraf kepala mendapat kestabilan dalam elastisitasnya dgn memacu peredaran darahnya secara stabil diseluruh tubuh), serta kurangnya menjaga makanan yang mengandung minyak yg bersifat jenuh. Tiga hari bapak tsb memakai artificial breathing, catheter dll, namun atas keputusan rumah sakit tsb, dan setelah ditinjau secara medis, segala alat tsb harus dicabut dg alasan bahwa masih byk pasien lainnya yg membutuhkan ruangan tsb karena kekurangan alat-2 medis. Sewaktu saya memegang kepala bapak tsb, tekanan darah systolic dan diastolicnya
melonjak dari 100/60 menjadi 150/98. Dari ini saya menyadari bahwa jiwanya
mengerti dan orgnya tergolong masih hidup. Pertanyaan saya, atas keputusan hospital, apakah dokter yg mencabut alat pernafasan itu berarti membunuh?? Terkena karma buruk tidakkah sang dokter tsb?

Jawaban :

Pertanyaan anda berhubungan dengan metode kedokteran, sehingga kami tidak bisa memberikan pendapat terhadap masalah tersebut, memang patut disayangkan kalau rumah sakit kekurangan peralatan dan ruangan, dan inilah kondisi umum di negara kita, masih banyak yang perlu diperbaiki. Dalam kasus itu tentu saja dokter mempunyai ‘alasan’ tersendiri, dan pastinya hanya dari sisi ilmu kedokteran lah yang bisa memberikan penilaian terhadap tindakan dokter tersebut.

Iklan

Entry filed under: Tanya Jawab.

Tanya Jawab 73 Tanya Jawab 75

3 Komentar Add your own

  • 1. Agung  |  Februari 15, 2008 pukul 7:30 am

    Segala jenis bidang pekerjaan yang ada didunia ini, bermula dengan didasari dari hati, lalu dikembangkan dengan pola pemikiran yang logika, dianalisa kembali dan diperbaiki berulang-ulang kali, dicerminkan melalui hati nurani dan kemauan cita-cita untuk menempuh keadaan yang lebih baik dimasa depan nanti, di dalam segala hal bidang yang ada didunia ini, dan terutama dalam topik pertanyaan hal ini adalah dalam hal ilmu kedokteran, segalanya tidak luput daripada Hukum TAO (Hukum Karma).
    Anda mengutarakan bahwa dokter mempunyai ‘alasan’ tersendiri, dan hanya dari sisi ilmu kedokteran lah yg bisa memberikan penilaian terhadap tindakan tersebut. Menyadari bahwa banyak dokter-2 yang tidak mengerti Tao, dan menyadari bahwa ada Hukum TAO, pertanyaan saya seperti yng sebelumnya adalah 1.) Apakah dokter yang menganalisa dan menyatakan bahwa si pasien sudah akan bakal menjadi koma diseumur hidupnya, lalu mengambil keputusan untuk mncabut alat pernafasan pasien tsb, berarti membunuh pasien tsb ? 2.) Apakah dokter tsb akan menanggung karma buruknya?
    Trims

    Balas
  • 2. TAO-TSM  |  Februari 19, 2008 pukul 11:51 pm

    Salam Tao,
    Rekan Agung, yang kami maksudkan adalah :
    Apabila seorang Dokter bertindak dengan berdasarkan analisa Medis yang bisa dipertanggungjawabkan, maka tindakan itu mestinya merupakan tindakan yang benar.
    Apalagi bila dibarengi dengan didasarkan pertimbangan hati nurani yang baik seperti yang anda jelaskan.
    Pastilah Dokter tersebut telah melakukan hal yang benar.
    Saya sebagai orang yang bukan berlatar belakang pendidikan kedokteran, hanya bisa memberikan pendapat seperti ini.
    Terima kasih.
    Salam
    Mod

    Balas
  • 3. Ferrymen  |  Mei 25, 2008 pukul 8:06 am

    Menurut saya, terlepas dari salah dan benarnya kasus ini, haruslah dimengerti bahwa setiap kasus akan terlihat berbeda jika dilihat dari sudut pandang berbeda dan juga dari variasi kejadiannya.
    Sebagai orang yg siutao, sebaiknya kita mempertebal kemampuan kesadaran kita (wu) untuk dapat menilai suatu kejadian dengan baik ataupun untuk tidak menilai suatu kejadian jika di luar kemampuan kita.

    Salam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalendar

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Komentar Terbaru

sunar di Kata-kata bijak 4
HERI D. PUTRA di Kata-kata bijak 4
HERI D. PUTRA di Kata-kata bijak 4
herman nuriady di Legenda 8 dewa
anugrah di Kata-kata bijak 4
Chang di BAO SHENG DA DI
aseng klenteng di Tanya Jawab 61
Ozzy Hirata di Kata-kata bijak 3
haerul di BAO SHENG DA DI
khoirul Anam di Kata-kata bijak 4

RSS SiuTao Community

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Gambar







Stats

  • 97,150 hits

%d blogger menyukai ini: